JAMBI, Beritategas.com – Alhamdulillah tanpa terasa kita sudah menjalani puasa Ramadhan 1446 hari ke-20, Kamis (20/03/2025). Tentunya kita berharap puasa yang telah kita jalani selama 19 hari mendapat ganjaran amalan yang mulia disisi Allah.
Kemudian para ustadz yang mengisi ceramah di Masjid-masjid maupun musholla sebagian sudah mulai pamit dari hadapan jamaah dengan harapan umur panjang dan badan sehat serta tentunya pengurus mengundang ustadz kita bertemu di ramadhan tahun depan.
Hal ini disampaikan ust. Abdul Rasyid, S.Ag dihadapan jamaan sholat tarawih berjamaah di Masjid Baitul Makmur Perumahan Villa Karya Mandiri, Jaluko, Jambi.
Dalam kultumnya ust Rasyid berpesan, kalau mau jadi pedagang, jadilah pedagang yang jujur. Pedagang itu cepat sekali masuk sorga dan cepat pula masuk ke neraka.
Jujur dalam berdagang menurut Islam adalah prinsip utama yang harus dipegang oleh setiap pedagang. Kejujuran dalam berdagang merupakan bagian dari etika bisnis Islam.
“Al-Qur’an Surah Al-Mutaffifin ayat 1-3 melarang tindakan curang dalam takaran dan timbangan.”
Azab dan kehinaan yang besar pada hari Kiamat disediakan bagi orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.
Allah telah menyampaikan ancaman yang pedas kepada orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang yang terjadi di tempat-tempat jual beli di Mekah dan Madinah pada waktu itu. Diriwayatkan bahwa di Madinah ada seorang laki-laki bernama Abū Juhainah.
Ia mempunyai dua macam takaran yang besar dan yang kecil. Bila ia membeli gandum atau kurma dari para petani, ia mempergunakan takaran yang besar, akan tetapi jika ia menjual kepada orang lain ia mempergunakan takaran yang kecil.
Perbuatan seperti itu menunjukkan adanya sifat tamak, ingin mencari keuntungan bagi dirinya sendiri walaupun dengan jalan merugikan orang lain.
Terhadap orang seperti itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR. Muslim).
Sedangkan, “Pedagang yang senantiasa jujur lagi amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang selalu jujur dan orang-orang yang mati syahid.” (HR. Turmudzi).
Cara Berdagang Jujur dalam Islam menurut ustdz Abdul rasyid, yaitu menimbang dan mengukur barang dengan jujur, Tidak menyembunyikan cacat atau kekurangan dari barang yang dijual, Menepati janji dan komitmen, Menghindari praktek riba, Menjaga integritas dan tidak melakukan kecurangan.
Semisal dalam berjualan buah duku kita katakan “Duku Kumpeh asli”, duku yang rasanya tak diragukan lagi manis, dagingnya tebal, bijinya kecil pada hal itu bukan. Ini sudah merupakan kecurangan.
Orang-orang yang mengurangi takaran dan timbangan mendapat dosa yang besar karena dengan perbuatan itu, dia dianggap telah memakan harta orang lain tanpa kerelaan pemiliknya.
Allah melarang perbuatan yang demikian itu. jauhilah praktek-praktek yang merugikan orang lain dan ancaman hukumannya sangat besar di dunia dan akhirat.
Ustadz Rasyid berpesan, jadilah pedagang yang jujur dalam berdagang. Ayat yang menyuruh manusia untuk memenuhi dan menyempurnakan timbangan adalah firman Allah: (al-Isra’/17: 35).
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”, ujarnya.
Pewarta: A.Erolflin
Editor: Firman